Asal Usul Padel, Ternyata dari Pasutri? Ini Kisahnya
Padel oh padel, betapa hypenya olahraga ini sekarang. Postingan orang-orang lagi main padel juga mulai berseliweran di media sosial. Lalu apa itu Padel? Sekarang coba kamu bayangin tenis yang digabung bareng squash, terus dituang ke lapangan kecil berdinding kaca. Nah, jadilah padel, olahraga yang lagi naik daun banget di berbagai negara, termasuk Indonesia.
![]() |
| foto: Pixabay/LatuLia |
Aturannya simpel, bola harus melewati net dan boleh mantul satu kali sebelum dikembalikan. Tapi yang bikin seru, bola boleh mantul ke dinding juga! Kadang bola datang dari belakang, kadang dari samping, bikin pemainnya ketawa-ketawa sambil teriak, "woi, balikinnya ke mana nih?!”
Padel itu enggak butuh skill tinggi kayak tenis. Siapa pun bisa main dari awal, asal punya refleks sedikit dan semangat banyak. Justru karena gampang diikutin, olahraga ini cepat banget jadi favorit banyak orang. Bahkan bisa jadi candu!
Dan karena lapangannya kecil, jarak antar pemain deket banget. Jadi kalau main padel, suasananya rame. Ada yang bercanda, ada yang heboh ngambil bola, ada yang pura-pura kalah biar bisa nongkrong dulu di pinggir lapangan.
Banyak tempat sekarang bikin konsep “padel & chill” lapangan di sebelah kafe, musiknya enak, suasananya santai. Main satu set, terus lanjut ngopi atau makan sandwich.
Lalu dari mana si "Padel" ini? Siapa yang membuatnya?
Ceritanya bermula di Acapulco, Meksiko, tahun 1969. Seorang pria kaya bernama Enrique Corcuera dan istrinya, Viviana, sering main tenis santai di halaman rumahnya. Masalahnya, halaman mereka sempit, dan bola yang dipukul sering banget terbang ke rumah sebelah.
Daripada terus minta maaf ke tetangga, Enrique punya ide: Gimana kalau lapangannya dikasih tembok aja?
Akhirnya, ia membangun lapangan kecil dengan dinding setinggi sekitar 3 meter, terbuat dari kombinasi semen dan pagar kawat. Tembok itu awalnya cuma supaya bola nggak kabur, tapi ternyata justru bikin permainan jadi lebih seru, bola bisa mantul balik dari dinding, menciptakan dinamika baru yang nggak ada di tenis.
Dari situ, Enrique mulai menyusun aturan main sendiri. Permainan itu jadi semacam versi rumah tangga dari tenis, tapi dengan gaya dan ritme yang berbeda. Belakangan, permainan ini dikenal sebagai padel gabungan antara tenis dan squash.
Karena keluarga Corcuera termasuk kalangan sosial atas, banyak tamu mereka yang datang ke Acapulco, termasuk Pangeran Alfonso dari Hohenlohe, Spanyol. Sang pangeran terpukau dengan permainan unik itu. Begitu pulang ke negaranya, pada tahun 1974, ia langsung membangun dua lapangan padel di Marbella, Spanyol, dan mulai memperkenalkannya ke teman-teman bangsawan serta selebritas Eropa.
Dari situlah padel mulai menyebar. Tahun berikutnya, olahraga ini menyeberang ke Argentina, yang kini justru jadi salah satu negara dengan pemain padel terbaik di dunia.
Memasuki tahun 1980–1990-an, aturan permainan disempurnakan, dan dinding kaca transparan menggantikan kawat besi supaya penonton bisa melihat pertandingan dengan lebih jelas. Pada 1991, berdirilah Federación Internacional de Pádel (FIP) sebagai badan resmi yang mengatur olahraga ini di tingkat dunia. Tahun yang sama juga digelar Piala Corcuera di Meksiko, turnamen padel internasional pertama.
Dan begitulah, dari sekadar kisah bola tenis yang nyasar ke rumah tetangga, lahirlah olahraga global yang kini dimainkan jutaan orang dari Madrid sampai Jakarta.
Mengapa Dinamakan Padel?
Awalnya permainan ini dikenal dengan nama “Paddle Corcuera”, diambil dari nama sang penciptanya, Enrique Corcuera, yang merancangnya di rumahnya sendiri. Kata “paddle” dipilih karena waktu itu mereka memakai alat pemukul dari dayung kayu pantai, terinspirasi dari permainan seperti paddle tennis dan paddleball.
Lalu, saat olahraga ini resmi diakui di Spanyol pada tahun 1993, namanya diganti jadi “padel” supaya lebih gampang diucapkan dan terdengar lebih natural dalam bahasa Spanyol.
Raket Padel
Kalau kita ngobrol santai soal raket padel, ternyata alat ini jauh lebih menarik dari sekadar tongkat buat mukul bola. Desainnya aja udah beragam, ada yang bentuknya bulat, tear drop, sampai diamond. Tiap bentuk punya karakter sendiri: yang bulat biasanya buat pemain yang suka kontrol dan stabilitas, sementara bentuk diamond lebih cocok buat mereka yang hobi smash dan pengin power besar. Permukaannya juga punya banyak lubang, bukan buat gaya-gayaan, tapi biar angin bisa lewat dan ayunan jadi lebih ringan serta responsif.
Bicara soal bahan, bagian inti raket biasanya terbuat dari EVA atau foam. EVA cenderung lebih keras dan ngasih kontrol yang mantap, sedangkan foam lebih empuk dan nyaman di tangan, cocok buat pemula yang belum terbiasa dengan getaran pukulan. Di sisi luar, ada kombinasi fiberglass dan karbon.
Fiberglass bikin raket terasa lentur dan ringan, sementara karbon bikin pukulan lebih tajam dan bertenaga. Jadi, pilihan bahan ini sebenarnya balik lagi ke gaya main kamu, mau yang nyaman dan fleksibel atau yang keras dan agresif.
Kombinasi bahan dan bentuk raket ini juga ngaruh banget ke gaya permainan. Kalau kamu tipe yang suka main di belakang lapangan, ngatur tempo, dan lebih fokus pada kontrol, raket dengan bahan yang lebih fleksibel bakal terasa lebih pas. Tapi kalau kamu pemain yang senang menekan lawan dari depan dan sering nyerang cepat, raket berbahan karbon dengan titik berat ke bagian atas bisa bantu ngasih pukulan yang lebih nendang. Intinya, jangan cuma lihat harga atau merek, lihat juga bahan, berat, dan keseimbangannya.
Dan terakhir, jangan lupa perawatannya. Walau raket padel dibuat dari bahan premium, tetap aja bisa rusak kalau dibiarkan di tempat panas atau kena sinar matahari langsung terlalu lama. Resin dan inti di dalamnya bisa melemah. Cek juga permukaannya sesekali, siapa tahu ada retakan kecil yang bisa ngaruh ke performa. Kalau mau beli baru, usahain coba dulu di tangan, karena rasa raket itu sangat personal. Yang paling penting, raket itu harus terasa kayak perpanjangan dari tangan kamu sendiri, enteng, nyaman, dan pas buat gaya mainmu.


Post a Comment